KABUPATEN SEMARANG | SEKEDARINFO.NET – Tumpukan sisa makan bergizi gratis (MBG) yang biasanya berakhir di tempat sampah kini berubah menjadi sumber manfaat dan nilai ekonomi di MTs Negeri (MTsN) Semarang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Melalui budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF), para siswa berhasil mengolah limbah organik MBG menjadi pakan ternak sekaligus sarana belajar tentang pelestarian lingkungan.
Di antara para siswa yang aktif merawat maggot adalah Azana Fairuzsyifa dan Salisa Kurnia Abida. Setiap hari, keduanya rutin memberi makan ribuan larva menggunakan limbah organik MBG yang telah melalui proses fermentasi.
Namun, perjalanan mereka tidak selalu mudah. Rasa jijik sempat menjadi tantangan terbesar saat pertama kali terlibat dalam program tersebut.
“Awalnya ya merasa jijik dan geli, tapi lama-kelamaan terbiasa, apalagi ada misi besar di balik pemeliharaan maggot ini, yakni pemanfaatan sampah organik,” ujar Azana.
Bahan pakan maggot berasal dari sisa sayuran, buah-buahan, hingga limbah makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikumpulkan dari lingkungan sekolah dan asrama. Sebelum diberikan kepada maggot, limbah tersebut dipilah dan difermentasi selama sekitar satu minggu.
“Setelah difermentasi, baru menjadi santapan maggot,” katanya.
Mengubah Sampah Menjadi Manfaat
Setiap hari, sekolah menghasilkan sekitar dua kuintal sampah dari aktivitas siswa dan asrama. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 kilogram merupakan sampah organik yang kini dimanfaatkan sebagai pakan maggot.
Kepala MTsN Semarang, Muh Muslimin, mengatakan persoalan sampah sempat menjadi tantangan tersendiri, terutama karena sekolah menerapkan sistem boarding school dengan jumlah penghuni yang cukup banyak.
“Persoalan sampah menjadi problem. Karena itu, untuk sampah organik diolah menjadi makanan maggot sehingga lebih bermanfaat,” ujarnya.
Menurut Muslimin, program ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga menghadirkan nilai tambah dari sisi ekonomi dan pendidikan lingkungan.
Berawal dari Penelitian, Berujung Produksi
Budidaya maggot di MTsN Semarang berawal dari penelitian siswa yang dipersiapkan untuk mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Siapa sangka, proyek akademik tersebut berkembang menjadi program berkelanjutan yang memberikan dampak nyata bagi sekolah.
Dalam satu siklus pemeliharaan, maggot memerlukan waktu sekitar 48 hari hingga siap dipanen. Selama masa pertumbuhan, maggot melewati beberapa fase, mulai dari telur selama tiga hingga empat hari, larva selama 14 hingga 21 hari, prepupa tujuh hingga 14 hari, hingga fase dewasa lima sampai delapan hari.
Agar tumbuh optimal, maggot diberi makan dua kali sehari.
“Setelah 48 hari, maggot siap dipanen dan digunakan untuk pakan ikan di kolam,” jelas Azana.
Saat ini, hasil panen maggot dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan di tiga kolam milik sekolah. Selain maggot basah, sekolah juga mulai memproduksi maggot kering yang memiliki daya simpan lebih lama dan berpotensi dipasarkan secara lebih luas untuk pakan ternak.
Belajar Menjaga Bumi dari Sisa Makanan
Bagi para siswa, budidaya maggot bukan sekadar aktivitas mengolah sampah. Program ini menjadi sarana belajar tentang inovasi, kewirausahaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Salisa mengaku kini tak lagi merasa jijik saat mengelola limbah makanan yang sebelumnya dianggap kotor dan tidak berguna.
“Dahulu saya merasa jijik, tetapi setelah sering terlibat dalam prosesnya, sekarang sudah terbiasa,” ujarnya.
Melalui ribuan larva kecil yang bekerja mengurai sampah setiap hari, para siswa belajar bahwa sesuatu yang dianggap tidak bernilai ternyata bisa menjadi sumber manfaat besar.
Muh Muslimin menegaskan, semangat tersebut sejalan dengan gerakan ekoteologi yang dikembangkan di madrasah. Menurutnya, menjaga lingkungan merupakan bagian dari implementasi nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berusaha mengolah sampah itu agar lebih bermanfaat, sekaligus membuktikan pengelolaan sampah bukan sekadar urusan kebersihan, melainkan manifestasi iman melalui gerakan ecotheology,” katanya.
Predikat Madrasah Adiwiyata yang disandang MTsN Semarang pun diwujudkan melalui aksi nyata. Dari sisa makanan yang sebelumnya hanya menjadi masalah, kini lahir pembelajaran berharga tentang bagaimana menjaga bumi, mengurangi sampah, dan menciptakan peluang ekonomi.
Di tangan para siswa, sampah bukan lagi akhir dari sebuah proses. Justru dari sanalah sebuah perubahan dimulai.***(AT)






